Membedah Syahadat Nikea-Konstantinopel yang sudah berumur 1700 tahun.
Membedah syahadat Nikea Konstantinopel, salah satu syahadat yang paling penting dalam sejarah Kekristenan, dan bagaimana hal itu mempengaruhi iman saya sebagai seorang Katolik.
DISCLAIMER: Tulisan ini berdasarkan apa yang saya pahami sebagai awam berdasarkan resource yang ada di internet dan pengalaman saya sendiri.
Cerita-cerita dulu
Orang-orang Katolik, terutama di Indonesia pasti sudah tau tentang Credo Nicea-Constantinopel dan menyebutnya Credo panjang. Karena pasca Konsili Vatikan II, Missa Novus Ordo di Indonesia biasanya pakai Credo singkat, atau kita sebutnya Syahadat Para Rasul. Sebenarnya Credo panjang juga dipakai di Novus Ordo, tapi memang jarang dipakai di Indonesia? (Hanya asumsi karena saya hanya beberapa kali ke paroki di Jabodetabek dan sekitarnya, dan rata-rata pakai Credo singkat).
Personally, saya sangat suka ketika Credo panjang dipakai, karena saya merasa itu lebih lengkap dan lebih mendalam. Apalagi ketika kita menyanyikannya dalam bahasa Latin, rasanya seperti kita benar-benar menyatakan iman kita dengan sepenuh hati. Oh ya, saya paling suka versi Gregorian Chant yang Credo III dan ini yang keliatannya sering dipakai.
Bisa didengarkan di sini:
Ini waktu dinyanyikan saat Missa Novus Ordo di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Jujur saya merinding ketika Credo III dinyanyikan bersama-sama.
Tapi ya itu, mungkin karena lebih panjang dan lebih sulit dihafal, jadi jarang dipakai. Padahal kan ini salah satu aspek terpenting dalam keimanan kita sebagai orang Katolik, karena di dalamnya kita menyatakan apa yang kita percayai tentang Allah, Yesus, Roh Kudus, dan Gereja. Jadi menurut saya, penting banget untuk kita tahu dan menghayati isi dari Credo ini.
Saya cuma tau Credo panjang ini dipakai di Missa Novus Ordo (Indonesia) di Apostolic Nunciature di Jakarta dan satu lagi ya waktu Missa Tridentine.
Sebenernya ga ada masalah sih, karena kita bisa pakai Credo singkat atau panjang, yang penting kita tahu dan menghayati isi dari Credo itu sendiri. Tapi saya merasa sayang aja kalau kita ga pakai Credo panjang, karena itu kan salah satu warisan berharga dari Gereja kita yang sudah ada sejak zaman Konsili Nikea.
Kayaknya itu karena ada yang kepikiran “Ah, ngapain sih pake yang panjang, udah gitu dinyanyikan lagi, kan capek, ga praktis, ga efisien, bla bla bla, mending pakai yang pendek.” Ah ga tau lah, ga mau berburuk sangka juga. 💀💀
(((Lagian ngapa sih missa harus buru2 gitu, heran 😅😅)))
Mulai melihat isi Credo Nicea-Constantinopel
Tidak valid kalau saya tidak mencantumkan Credo panjang ini dalam bahasa Latin dan Indonesia yang umurnya sudah sekitar 1700 tahun.
Ini bahasa Latin-nya:
Credó in únum Déum
Pátrem omnipoténtem
Factórem cæli et térræ
Visibílium ómnium
Et invisibílium
Et in únum Dóminum
Jésum Chrístum
Fílium Déi unigénitum
Et ex Pátre nátum ante
Ómnia sæcula
Déum de Déo
Lúmen de lúmine
Déum vérum de Déo véro
Génitum, non fáctum
Consubstantiálem Pátri
Per quem ómnia fácta sunt
Qui propter nos hómines
Et propter nóstram salútem
Descéndit de cælis
Et incarnátus est
De Spíritu Sáncto
Ex María Vírgine
Et hómo fáctus est
Crucifíxus étiam
Pro nóbis
Sub Póntio Piláto
Pássus, et sepúltus est
Et resurréxit tértia díe
Secúndum scriptúras
Et ascéndit in cælum
Sédet ad déxteram Pátris
Et íterum ventúrus est
Cum glória
Judicáre vívos et mórtuos
Cújus régni non érit fínis
Et in Spíritum Sánctum
Dóminum, et vivificántem
Qui ex Pátre Filióque procédit
Qui cum Pátre et Fílio
Simul adorátur
Et conglorificátur
Qui locútus est
Per Prophétas
Et únam sánctam cathólicam
Et apostólicam Ecclésiam
Confíteor únum baptísma
In remissiónem peccatórum
Et exspécto
Resurrectiónem mortuórum
Et vitam ventúri sæculi
Amen
Dan ini Bahasa Indonesia-nya:
Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
Aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
Aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
Amin.
PART I: Saya Percaya atau Kita Percaya?
Πιστεύομεν εἰς ἕνα Θ[εό]ν
Credó in únum Déum
Aku percaya akan satu Allah
Dalam bahasa Yunani, kalimat ini tadinya berbunyi “Πιστεύομεν εἰς ἕνα Θ[εό]ν” (Pisteuomen eis hena Theon). dan aslinya ditulis dengan perspektif orang pertama plural. Jadi bukan “Aku percaya akan satu Allah” tapi “Kita percaya akan satu Allah”.
Seiring perkembangan liturgi, teksnya dipersonalisasi menjadi “Πιστεύω εἰς ἕνα Θεόν” atau “Aku percaya akan satu Allah”.
PART II: Allah Bapa yang Mahakuasa.
Credó in únum Déum
Pátrem omnipoténtem
Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
Hanya adalah satu Allah, yang adalah Bapa yang mahakuasa, kita tidak perlu khawatir akan adanya “banyak tuhan” atau “dewa-dewa lain” yang bisa menandingi Allah kita.
Dalam pemahaman masyarakat pagan di masa lalu, “tuhan” adalah dewa-dewa yang memiliki kekuatan tertentu dan selalu berkonflik dengan “tuhan” lainnya. Sementara TUHAN kita adalah satu-satunya Allah yang mutlak dan seluruh kuasanya dikhususkan pada ciptaan-Nya, dibandingkan harus berkonflik dengan “tuhan” lain.
Ketika kita mengakui bahwa Allah adalah Bapa kita, kita mengakui bahwa DIA adalah awal mula dari kehidupan, dan semua ciptaan ada karena TUHAN.
Di dalam Alkitab, Yesus memanggil Tuhan sebagai Abba, dalam bahasa Aramaic berarti “Bapa”. Ini menunjukkan hubungan yang sangat dekat antara kita dengan Allah, karena kita bisa memanggil-Nya dengan sebutan yang sangat akrab dan penuh kasih sayang. Kita bukan hanya makhluk ciptaan-Nya, tapi juga anak-anak-Nya yang dikasihi. Karena Yesus sendiri juga mengajak kita memanggil Allah sebagai Bapa.
Perlu digarisbawahi bahwa memanggil Allah sebagai Bapa bukan berarti kita menganggap Allah itu laki-laki, karena Allah itu adalah Roh. (John 4: 24)
Allah Bapa adalah pencipta dari SEGALANYA yang ada.
Factórem cæli et térræ
Visibílium ómnium
Et invisibílium
Pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
Kalau misalnya saya ngomong “Saya belajar pagi dan malam,” artinya saya belajar seharian penuh dan mendedikasikan waktu saya untuk belajar. Nah, “cæli et térræ” atau “langit dan bumi,” adalah ungkapan orang-orang kuno bahwa Allah menciptakan seluruh alam semesta, termasuk segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Oh iya sedikit fun fact, tau ga kalau “caeli” diambil dari bahasa Yunani, “οὐρανός” (ouranós), artinya adalah langit atau surga.
Makanya kalau di Credo Nicea Bahasa Inggris diterjemahkan jadi “Maker of heaven and earth.”
Jujur saya ga tau kenapa kok diterjemahkan jadi “langit” dalam bahasa Indonesia, karena kalau kita ngomong “langit” itu kan biasanya merujuk ke atmosfer bumi, atau tempat burung terbang, atau awan-awan. Sementara “caeli” itu lebih merujuk ke konsep “Surga” yang lebih luas dan lebih tinggi dari langit yang kita lihat sehari-hari.
PART III: Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal.
Et in únum Dóminum Jésum Chrístum
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus
Kalau kita perhatikan dalam bahasa Latin (dan terjemahan bahasa Indonesia), kata “et” atau “dan” di awal mengindikasikan bahwa Yesus juga sama-sama kita percayai seperti Bapa di kalimat sebelumnya. Jadi Bapa dan Putra (Yesus Kristus) adalah kedua pribadi yang berbeda tapi tetap sehakikat untuk kita percayai secara pararel.
Fílium Déi unigénitum
Et ex Pátre nátum ante Ómnia sæcula
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad
Kalau terjemahan literal dari bahasa Latin, “Fílium Déi unigénitum” itu artinya “Putra milik Allah satu-satunya yang unik.”
Tapi ini ga seperti hubungan antara manusia dengan anaknya. Kalau kita lihat di kalimat berikutnya “(Dan) Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,” atau terjemahan dari “Ómnia sæcula” artinya semua/segala abad/waktu/zaman yang bermakna kekekalan sebelum penciptaan.
Hal ini menunjukkan bahwa Yesus bukanlah makhluk ciptaan seperti manusia dari ayahnya. Tapi Bapa menjadi “Bapa” dari Yesus yang sudah ada sejak kekekalan. Karena pemahaman kita terlalu terbatas untuk membayangkan apa itu “kekekalan,” maka kita sulit membayangkan ada apa sebelum penciptaan.
Bagian berikutnya menjelaskan lebih lanjut tentang keilahian Yesus, yaitu:
Déum de Déo
Allah dari Allah,
- Allah dari Allah:
Menunjukkan keilahian atau kodrat Yesus sebagai TUHAN. - Allah dari Allah:
Menunjukkan relasi Yesus dengan Bapa. - Allah dari Allah
Menunjukkan sumber dari keilahian Yesus, yaitu Bapa.
Lúmen de lúmine
Terang dari Terang,
Bagian ini merupakan referensi dari Ibrani 1:3:
“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”
Lanjut ke kalimat berikut:
Déum vérum de Déo véro
Allah benar dari Allah benar
Saya paling suka bagian ini: “Allah benar dari Allah benar,” di kalimat sebelumnya padahal sudah dijelaskan “Allah dari Allah.” Tapi bagian ini menambahkan “benar.”
Nah, bagian ini sebenarnya dipakai untuk melawan paham Arianisme bahwa Yesus adalah keilahian kedua yang lebih rendah setelah keilahian pertama (Allah).
Pengakuan tersebut merupakan referensi dari ayat Yohanes 1:1:
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Dilahirkan dan bukan dijadikan.
Génitum, non fáctum
Consubstantiálem Pátri
Per quem ómnia fácta sunt
Ia dilahirkan, bukan dijadikan
sehakikat dengan Bapa
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya
“Génitum” sebenarnya bukan “lahir” secara literal dalam Bahasa Indonesia. Karena di Bahasa Indonesia tidak ada kata yang bisa menjelaskan “Genitum” dengan makna teologis yang lebih dalam. Lahir merupakan proses biologis, sementara Yesus sudah ada dari kekekalan bukan karena proses biologis.
Dalam terjemahan Bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan menjadi “Begotten, not made.” Begotten adalah kata yang lebih cocok dalam konteks ini, dan kita bisa lihat perbandingan di bawah ini:
- Beget (dilahirkan): menghasilkan sebuah entitas dengan esensi yang sama.
- Create (dibuat): menghasilkan sebuah entitas dengan esensi yang berbeda.
Jadi itu adalah maksud dari “dilahirkan” dengan pemahaman yang lebih baik.
Alasan lain kenapa harus ditekankan bahwa Yesus bukan dijadikan:
Jadi pada saat itu Arianisme menggangap bahwa Yesus diciptakan oleh Allah sebelum adanya dunia walaupun Yesus sendiri levelnya di atas kita sebagai ciptaan. Mengatakan Yesus sudah ada sebelum kekekalan aja ga cukup, kita harus benar-benar memisahkan antara pencipta dan ciptaan, dan harus ada batasan yang memberi pemahaman bahwa Yesus merupakan pencipta juga.
Kita harus berpegang teguh bahwa hanya ada Ciptaan dan Pencipta yang (homoousios). Dan tidak ada yang di tengah-tengah kedua hal tersebut.
Singkatnya Homoousios diambil dari bahasa Yunani (ὁμοούσιος) yang artinya sehakikat.

Turun dari surga untuk (keselamatan) kita.
Qui propter nos hómines
Et propter nóstram salútem
Descéndit de cælis
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Sebenarnya kalau diterjemahkan secara literal harusnya menjadi: “Yang demi kita manusia dan keselamatan kita, turun dari surga.” Tapi terjemahan yang sekarang juga masih memiliki makna yang sama, jadi tidak masalah.
Pengakuan tersebut merupakan referensi dari Yohanes 3:16:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Katekismus Gereja Katolik juga merumuskan bahwa TUHAN berinkarnasi untuk 4 alasan berikut (Lihat KGK 457-460):
- Untuk mendamaikan kita dengan Allah (karena dosa-dosa kita) dan dengan demikian menyelamatkan kita.
- Supaya dengan demikian kita mengenal cinta Allah.
- Untuk menjadi contoh kekudusan bagi kita.
- Supaya kita “mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”
Santo Athanasius dari abad keempat juga mengatakan bahwa “Sabda (Putra) Allah menjadi manusia, supaya kita di-ilahi-kan.” (Lihat KGK 460)
Peristiwa inkarnasi adalah tindakan yang rendah hati seperti yang diajarkan oleh Paulus pada Filipi 2: 7-8:
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Perlu diperhatikan di sini bahwa proses inkarnasi bukanlah pergerakan geografis/perpindahan ruang seperti kita bergerak dari Jakarta ke Bandung, tapi di dalam proses inkarnasi surga juga tidak ditinggalkan. Dia memegang seluruh kendali atas segalanya dan berada di setiap tempat pada setiap saat. Selain itu, dunia bukanlah suatu tempat yang asing bagi Yesus pada saat dia ke dunia, karena dunia merupakan ciptaan-NYA sendiri.
Konsep ini juga bisa disebut sebagai “The Omnipotence, Omniscience, and Omnipresence of God”Pernyataan tersebut adalah pernyataan dari St. Augustine dari Hippo di karyanya yang berjudul Christian Doctrine 1.12.12:
“He is said to have come to us, not from place to place through space, but by appearing to mortals in mortal flesh. He came to a place where he was already.”

atau yang pernyataan yang lebih sederhana dari St. Gregorius dari Nazianzus di karyanya yang berjudul Oration 29:19
“He remained what He was and took up what He was not.”
Pemahaman tersebut disebut “Kenosis,” dari bahasa Yunani “ekénōsen” (ἐκένωσεν), yang artinya “kosong.” Ini adalah sebuah pemahaman yang merujuk pada kerelaan-Nya menyembunyikan kemuliaan ilahi untuk menjadi manusia demi ketaatan kepada kehendak Allah. Perlu diingat, Yesus tidak kehilangan keilahian-Nya, melainkan menyangkal diri dan mengesampingkan otoritas surgawi-Nya
Dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan Perawan Maria.
Et incarnátus est
De Spíritu Sáncto
Ex María Vírgine
Et hómo fáctus est
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Jika yang versi bahasa Latin diterjemahkan secara literal akan menjadi seperti ini: “Dan telah berinkarnasi melalui Roh Kudus, dari Perawan Maria, dan telah menjadi manusia.” Sebenernya sama saja, hanya saja
Bisa kita pada kalimat bahasa Latin dipakai 2 kata preposisi, yaitu “de” dan “ex.” Di sini ditekankan bahwa:
- “de” berarti “dari”, yang artinya peristiwa ini adalah inkarnasi melalui karya Roh Kudus.
- “ex” berarti “berasal dari” atau “keluar dari dalam”, yang berarti kemanusiaan Kristus (tanpa menghilangkan keilahian-Nya) berasal dari Maria, dan Maria adalah Sang Theotokos atau Yang Melahirkan Allah.
Bagian ini merupakan referensi dari Lukas 1:34-35:
Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Kata incarnatus berasal dari kata caro/carnis yang artinya adalah daging. Yang maknanya adalah:
- Sang Sabda ilahi mengambil kodrat manusia.
- Allah benar-benar masuk ke dalam kondisi manusia yang rapuh dan fana, bisa menderita, lapar, serta mati.
Dan ini berhubungan dengan injil Yohanes 1:14, saya mengutip Alkitab terjemahan Bahasa Latin, Inggris, dan Indonesia. Karena yang menggunakan kata “daging” adalah terjemahan Latin dan Inggris, sementara terjemahan Indonesia menggunakan kata “manusia.”
et Verbum caro factum est et habitavit in nobis et vidimus gloriam eius gloriam quasi unigeniti a Patre plenum gratiae et veritatis
The Word became flesh and made his dwelling among us. We have seen his glory, the glory of the one and only Son, who came from the Father, full of grace and truth.
Pendapat pribadi: Saya lebih suka penggunaan kata “daging” daripada “manusia” untuk memahami konteks ini, karena hal ini menekankan Allah mengambil kodrat manusia yang rapuh (mortal flesh) dan bukan identitas manusia semata.Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Inkarnasi Kristus yang diakui sejarah.
Crucifíxus étiam
Pro nóbis
Sub Póntio Piláto
Pássus, et sepúltus est
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Bagian ini juga menjadi salah satu bagian yang paling saya sukai karena pada bagian lain di syahadat hanya berfokus pada konsep Trinitas dan kunci utama dari Gereja Katolik, di bagian lain juga hanya mention Bunda Allah. Tapi di bagian ini, seorang Pontius Pilatus yang hanya manusia** **biasa disebutkan.
Hal tersebut bermakna bahwa peristiwa inkarnasi dan penyaliban Yesus Kristus benar-benar terjadi pada zaman kekaisaran Romawi. Bahkan ada banyak dokumen non-gerejawi yang ditulis non-kristen membahas tentang Kristus sebagai tokoh sejarah (Baca di sini).
Tahun, Bulan, Tanggal, dan Jam yang Pasti ketika Yesus Wafat.
Kita tahu bahwa Iman Besar Kayafas (Joseph ben Caiaphas) yang menuntut Penyaliban Yesus Kristus.
- Kayafas menjabat dari tahun 18 hingga 36 M.
- Yesus disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, antara tahun 26 hingga 36 M.
- Kita tahu bahwa Yesus wafat pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, yang mempersempit rentang waktunya menjadi antara tahun 29 hingga 36 M.
Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene (Lukas 3:1)
- Ia disalibkan pada hari Jumat sebelum perjamuan Paskah.
- Hanya ada dua Jumat malam ketika Paskah dimulai antara tahun 29 hingga 36 M, yaitu 7 April 30 M dan 3 April 33 M.
- Karena pelayanan Yesus mencakup tiga kali Paskah, maka tahun 30 M tidak mungkin.
- Paskah pertama: awal pelayanan (Yoh 2:13)
- Paskah kedua: tengah pelayanan (Yoh 6:4)
- Paskah ketiga: saat penyaliban (Yoh 11–19)
- Jadi yang tersisa adalah Jumat, 3 April 33 M.
- Injil mencatat bahwa Yesus wafat pada “jam kesembilan,” yaitu sekitar pukul 3 sore (Matius 27: 45-50).
Orang Yahudi menghitung jam dari matahari terbit (sekitar jam 6 pagi), bukan tengah malam. Jadi kira kira 06.00 + 09.00 adalah jam 15.00.
Yesus wafat pada tanggal 3 April 33 M pada jam 3 sore.
Crufixion of Jesus Christ.St. Gregorius dari Nyssa merumuskan bahwa wafatnya Kristus di kayu salib juga merupakan bagian dari inkarnasi. Tanpa kematian, peristiwa inkarnasi hanya terpenuhi setengahnya. Bisa kita lihat kutipannya dari karyanya yang berjudul The Great Catechism 2.32:
“He Who had determined once for all to share nature of man must pass through all the peculiar conditions of that nature. Seeing, then, that the life of man is determined between two boundaries, had He, after having passed the one, not touched the other that follows, His proposed design would have remained only half fulfilled, from His not having touched that second condition of our nature.”
