Perjalanan Iman Saya sebagai Seorang Katolik.

Refleksi perjalanan iman saya sebagai seorang Katolik, dari sekadar menjalani tradisi hingga menemukan makna liturgi, sakramen, dan panggilan pelayanan.

#catholic #religion #faith
ID

Saya lahir dari keluarga Katolik, yang otomatis saya dibaptis secara Katolik. Tapi sampai saya berumur 18 tahun, saya masih kurang memahami kenapa saya tetap menjadi seorang Kristen Katolik. Keluarga saya pun hanya orang Katolik secara rata-rata pada umumnya yang ke Gereja di hari minggu dan bukan yang religius banget sampai paham banget tentang doktrin ajaran Katolik dan rosario tiap malam. Saya waktu itu memang tau tentang ekaristi, bahwa Yesus sungguh hadir dalam komuni kudus. Tapi saya sekedar tau dan ga mempertanyakan tentang apapun itu. Saya hanya rosario kalau diajak. Saya bahkan juga jarang menerima sakramen rekonsiliasi, paling cuma 2x selama setahun, sebelum Natal dan Paskah. Saya juga hanya menghafal syahadat rasuli tanpa benar-benar memahami apa yang saya katakan.

Ya intinya gitu deh, kita flashback ke jaman-jaman waktu saya masih SD mungkin? Jujur saya ga begitu ingat sih tapi tetap akan saya ceritakan.

Pengalaman saat menjadi Putra Altar waktu SD dan SMP.

Kenapa saya mau jadi putra altar? Ya karena disuruh orangtua, apalagi kalau bukan itu. Saya juga ga tau mau bilang apa dan saya juga ga ada reasoning yang cukup kuat waktu itu kenapa harus menjadi putra Altar. Apalagi saya masih kelas 5 SD waktu didaftarin menjadi P2A. Bisa dibilang 85% kegiatan yang saya ikuti karena disuruh aja. Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi putra altar waktu SMP kelas 9. Saya ga begitu ingat secara persis, tapi waktu itu saya cuma pernah ikut acara bonding sekali, ikut trihari suci, jadi misdinar saat misa perkawinan, dan saya mikirnya β€œOh yang penting udh pernah dicoba semua dan saya stop aja.”

Sekarang saya mau jadi putra altar lagi.

Setelah saya pelajari lagi, menjadi seorang misdinar ternyata adalah tempat awal untuk pertumbuhan panggilan hidup atau discernment. Dulu sebenarnya misdinar hanya boleh laki-laki karena itu merupakan proses panggilan hidup menjadi seorang Imam. Dan juga tidak ada batasan umur untuk menjadi misdinar. Waktu saya liat misa di luar negeri, atau yang paling dekat itu Misa Latin di Jakarta, misdinarnya banyak yang berumur 20an ke atas. Sementara kebanyakan misdinar di paroki di Indonesia dibatasi sampai lulus SMA atau 18 tahun? Dan saya rasa ini jadi agak misleading; karena kan panggilan ini harusnya dari anak itu sendiri, kenapa yang daftarin orangtuanya? Dan kebanyakan orang belum memahami apa itu panggilan ketika masih muda.

Dan kalau boleh jujur saya tertarik untuk menjadi misdinar lagi di Misa Latin wkwkwk. Hanya saja saya takut ga bisa bagi waktunya. Saya juga organis di paroki saya dan hampir kebagian tugas tiap minggu. Selain itu Misa Latin terdekat yang saya biasa datangi itu jaraknya hampir 7km. Jadi butuh effort extra untuk mengambil komitmen ini.

Latin Mass


Saya yang dulunya hanya menerima Sakramen Rekonsilisasi saat Natal dan Paskah.

Benar sekali, dulu saya hanya masuk ke bilik pengakuan dosa 2x selama setahun. Bahkan ketika SMK, saya malah ga pernah menerima sakramen pengakuan dosa, SAMA SEKALI. Gila ga tuh wkwkwk. Dulu saya tidak merasa ada urgensi untuk menerima sakramen ini, yang padahal sangat sangat penting bagi seorang Kristen. Ada banyak alasannya sebenarnya, ga hanya merasa tidak penting, tapi ada campuran rasa malu, bersalah, dan lain sebagainya.

Sekarang saya jadi rutin menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Pada waktu itu saya mulai mempelajari tentang konsep dosa dan neraka dalam ajaran Katolik. Saya jadi paham kalau dosa (mortal) itu akan mendatangkan maut dan mengirimkan saya langsung ke neraka tanpa kompromi (straight to hell). Siapa sih yang mau masuk neraka 😭😭😭.

Semenjak saat itu saya jadi rutin menerima sakramen ini, minimal sebulan sekali. Paling sering itu tiap minggu. Tapi sekarang alasannya bukan hanya karena takut masuk neraka, tetapi saya mau ada perubahan jiwa di dalam diri saya, dan saya merasa sangat membutuhkan hal itu.

Saya dulu berpikir Trinitas itu seperti air, es, dan udara.

Ini yang paling bodoh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, bisa-bisanya dulu saya percaya dengan heresy abad ketiga bernama modalism. Saya juga lupa dulu tau itu darimana. Sekarang sih saya sudah paham tentang Trinitas yang sesungguhnya. Kita percaya akan Allah yang satu; Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda tetapi memiliki kodrat yang sama.

Modalism Heresy

Bergerak sedikit ketika saya masuk SMK.

Saya bersekolah di SMK negeri waktu itu, konsekuensinya adalah saya tidak mendapatkan pengajaran iman Katolik. Jadinya saya ikut pengajaran dengan format Kristen Protestan. Sebenarnya ga masalah karena saya tidak didiskriminasi, pengajar dan murid lain juga sangat welcome dengan saya yang beragama Katolik. Pengajarannya juga ekumenis alias membahas kasih Kristus (tidak sampai membahas doktrin Protestan). Cuma saya dulu kaget saja ketika ibadah rasanya (maaf) tidak tenang dan jauh sekali dengan Misa Katolik. Saya ingat dulu sekolah kami pernah mengundang pendeta dari Karismatik, dan kalian seharusnya sudah tau kalau ibadah format karismatik itu seperti apa 😌😌😌. Saya tau ada yang salah dengan itu tapi saya hanya diam saja karena saya ga tau mau cerita sama siapa dan saya belum mendalami iman Katolik sampai sejauh ini.

Apakah saya terpikirkan untuk pindah ke Protestan pada saat itu?

Ya jelas tidak. Walaupun dulu saya belum mendalami tentang Ekaristi, tapi saya bisa merasakan bahwa Ekaristi itu tidak tergantikan sama sekali, dan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Saya juga ada opini yang maaf mungkin akan terdengar kontroversial, tetapi saya rasa ibadah Protestan yang saya ikuti itu terasa shallow sekali dan tidak ada dasar iman yang jelas. Format ibadahnya itu sangat sederhana bagi saya; pujian, khotbah, pujian, persembahan, pujian. Dan itupun juga bisa berbeda tergantung kesepakatan gereja, denominasi, atau pendeta masing-masing. Berdasarkan pengalaman itu saya jadi memutuskan untuk tetap menjadi seorang Kristen Katolik.

Ibadah Karismatik

Menjadi seorang pelayan Gereja non-formal.

Saya mulai menjadi servant (dengan niat pribadi yang tulus) ketika lulus SMK sampai sekarang. Peran yang saya pilih adalah menjadi seorang organis. Awalnya saya jadi organis karena suka main musik saja, tidak ada alasan religius yang spesifik sih. Oh ya sama kedengeran keren kan jadi organis (bercanda).

Anyway,

Saya memutuskan untuk berkomitmen sampai seumur hidup (dan mungkin ini adalah panggilan saya).

Seiring perkembangan waktu, saya berkembang dalam hal spiritualitas dan mulai paham kalau misalnya peran yang saya pegang merupakan suatu tanggung jawab yang besar dan bukan hanya sekedar bermain musik saja. Saya tidak mengatakan bahwa peran lain di Gereja tidak penting, tetapi yang menggerakkan hati saya adalah jumlah organis di paroki kami yang tidak lebih dari belasan orang, mungkin kurang dari sepuluh? Sementara ada sekitar lima misa setiap minggu, belum lagi ada aksesoris lainnya seperti Jumat Pertama, Jalan Salib, Misa besar, dan lain-lain. Itulah yang menggerakkan hati saya untuk berkomitmen menjadi seorang organis, yaitu melayani dan meringankan beban orang lain.

Organist


Saya jadi suka mengikuti Misa Tridentine.

Saya ga tau pendapat orang lain tentang saya yang kadang lebih prefer dengan Misa Latin. Menemukan Misa Latin juga jadi titik perubahan dalam hidup saya menjadi seorang katolik. Misa Latin pertama yang saya ikuti itu di kapel SSPX daerah Sunter. Itu karena ada teman baik yang mengajak saya untuk misa di sana. Ketika selesai misa saya langsung merasa, β€œwah ini yang ternyata saya cari-cari (Misa Latin).” Tapi jarak untuk ke Sunter lumayan jauh dari rumah saya dan di sana misanya tidak tiap minggu, akhirnya saya menemukan Misa Latin di daerah Jatinegara, nama komunitasnya adalah Missa Latina. Dibandingkan harus ke Sunter, saya lebih dekat ke Jatinegara.

Kalau tidak ada jadwal tugas menjadi organis di paroki saya, saya menyempatkan untuk Misa Latin di sana, minimal seminggu sekali. Rasanya ada yang kurang kalau saya tidak Misa Latin selama beberapa minggu. Orangtua saya fine-fine saja dengan keputusan saya yang satu ini. Tapi saya ga tau pendapat orang lain yang saya kenal, bahkan saya tidak pernah membicarakan ini dengan Romo yang kenal dengan saya. Yah ga masalah juga kan, toh sakramennya valid, dan juga sudah seizin uskup setempat.

Apa saya jadi tidak suka dengan Misa Novus Ordo?

Saya tetap suka dengan Novus Ordo dan tidak ada masalah dengan itu. Saya masih menghadiri misa Novus Ordo untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus. Sayangnya misa Novus Ordo paling excellence dan reverence yang pernah saya rasakan itu di Apostolic Nuncio, dan sejauh ini hanya di sana. Saya belum merasakan Novus Ordo dijalankan sekhidmat itu di paroki lain di Indonesia (apa saya yang mainnya kurang jauh?). Saya tidak tahu apakah saya yang salah karena tidak mempersiapkan hati dengan baik di NO Paroki, atau memang NO di paroki tidak berjalan se-reverence itu?

Menurut pendapat pribadi saya (yang saya tahu ini agak berbahaya), Novus Ordo di paroki seringkali dijalankan setengah-setengah dalam arti kurang se-reverence dan hanya mengikuti keinginan umat, bahkan jatuhnya malah liturgical abuse? Saya tidak mengatakan bahwa misanya tidak dipersiapkan dengan baik atau apapun itu. Semuanya dipersiapkan dengan baik, tetapi dipersiapkan dengan baik saja sepertinya tidak cukup.

Bandingkan seperti ini, ada dua jenis makanan:

  1. Makanan rumahan sederhana sesuai anjuran dokter dengan bahan yang mahal.
  2. Makanan mewah sesuai keinginan kita dengan bahan yang mahal.

Keduanya sama-sama menggunakan bahan baku yang mahal dan dipersiapkan dengan baik. Tapi yang membedakan adalah, apakah itu sesuai dengan anjuran yang ada? Saya beberapa kali melihat tarian saat perarakan masuk, homili yang digantikan dengan hal lain, koor yang mendominasi nyanyian (dalam konteks negatif), tepuk tangan saat misa, mengobrol sebelum dan di saat misa, dan lain sebagainya. Semuanya memang dipersiapkan dengan baik, tapi apakah itu memang seharusnya terjadi? Ya itulah keluh kesah saya, dan saya hanya bisa menjalankan misa dengan mempersiapkan hati.

Altar bukanlah panggung, dan Misa bukanlah teater. Seluruh rangkaian liturgi merupakan kurban Kristus yang harus dipersiapkan dengan selayaknya.

Saya jadi kepikiran untuk mencoba Misa dengan ritus lain.

Ini karena atas dasar penasaran dan ingin mencari pengalaman baru. Tapi sayangnya saya belum menemukan ritus Katolik Timur di Indonesia sampai sejauh ini. Kalau komunitas Katolik Timur memang sudah ketemu, tapi yang belum ketemu adalah misa dengan ritus Timur. Saya pernah kepikiran untuk mencoba mengikuti liturgi Gereja Orthodox yang ada di daerah Jakarta Barat. Mereka sangat open jika ada umat dari agama lain, khususnya Kristen Katolik dan Protestan untuk mengikuti liturgi di sana. Tapi saya mengurungkan niat tersebut karena percuma tidak bisa menerima komuni. Saya juga ga mau logout dari Katolik dan takutnya hanya merepotkan orang yang akan membantu saya (dan saya tanya-tanya) selama liturgi.

Byzantine Rite

Kesimpulan

Ada banyak sekali hal yang saya membuat saya terus berkembang dalam iman dan saya sangat bersyukur kepada TUHAN akan hal tersebut. Banyak sekali pengalaman hidup yang mendekatkan saya kepada TUHAN melalui orang-orang di sekitar saya. Memang, terkadang saya masih kehilangan disiplin iman, menyangkal TUHAN di saat yang sulit, berpikir, berkata, serta bertindak di luar kehendak-NYA, bahkan menyia-nyiakan rahmat dan kasih-NYA. Dan saya sangat malu akan hal tersebut dan merasa tidak pantas untuk membicarakan tentang TUHAN kepada orang lain. Tapi dibalik semua itu saya akan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi selama perjalanan hidup saya.

β€œTUHAN, aku bersyukur atas hal baik yang kau berikan kepadaku dan segalanya yang kau ambil dariku! Sebab aku percaya setiap hal yang terjadi kepadaku merupakan alasan atas keselamatan jiwaku.”

The Denial of Peter’ by Ary Scheffer.

; ---