Apakah Kita bisa jadi Kaya dengan buat SaaS B2B di Indonesia?

Ayo bangun startup di tengah ekonomi Indonesia yang lagi carut-marut.

#tech #thought #ngeluh #saas #startup
ID

Kayaknya ga bisa dah.

No sugarcoat, no explanation, straightforward answer.

But if you’re care enough to read this article:

Yapping

Jadi kemarin saya abis ngobrol ringan sama salah satu teman saya, dia bukan anak tech tapi business. Punya cukup banyak pengalaman di bisnis B2B untuk anak seumurannya. Bisnisnya di bidang logistik, tapi saya ga bisa jelasin terlalu jauh karena: 1) Ga ada hubungannya sama blog ini 2) Melanggar privasi.

Sebenernya kami sudah dekat dari zaman-zaman sekolah, cuma exposure dia di bidang industri lebih banyak dari saya. Otomatis pengalamannya jauh lebih banyak.

Anyway,

trigger dari obrolan ini adalah “Apple Developer Academy.”

Dapet Mac, kerja empat jam sehari, digaji UMR. Nikmat mana yang kau dustakan?

Jadi teman dia keterima di ADA. Trus dia nanya ke saya, “kok lu ga join ADA?”

Ya atau tidaknya tidak penting di sini, karena yang penting adalah obrolan berikut.

Intinya di sini saya cerita kalau masih 50/50 untuk masuk Apple Dev. Soalnya sekarang saya mau cari company yang bisa solve real industry problem.

Lah, emangnya Apple Developer Academy engga?

Jujur saya ga bisa jawab karena saya ga punya experience apa-apa, bahkan dengar pengalaman orang lain juga jarang. Tapi kalau saya liat-liat ADA itu fokusnya adalah “startup-like” environment. Dan kalian pasti tau startup di Indoesia keadaannya seperti apa wkwkwkw.

Saya ga bilang intern di ADA itu jelek apa gimana-gimana. I think it is a good place to learn, bisa push creativity di sana, buat sesuatu berdasarkan ide-ide gila kita.

Tapi pertanyaannya, apakah itu akan sustain?

Dari obrolan kami, saya bisa membuat satu kesimpulan:

Software that sustains and survives tends to be boring.

Contohnya adalah aplikasi HR, Finance, Acccounting, BMS Software, atau semacam ERP dan SAP.

Tapi rata-rata software kayak gitu ga begitu merhatiin creativity, yang penting bisa dipahami orang kantor, bisa diakses dengan mudah, ga ada bug, perform good in old devices and specific condition. Then it is acceptable to the real business.

Balik lagi ke startup.

Nah teman saya ini punya kenalan yang baru pulang dari US karena ada acara Startup Grind untuk reach insight dan expand market bisnisnya.

Dari pembahasan itu diceritakan bahwa startup di US sangat mudah untuk berkembang dan lebih banyak uangnya.

karena apa?

BUYING POWER dan WILLINGNESS to PAY

yes, betul sekali, buying power di US dan Indonesia itu berbeda banget.

Karena kalau kita perhatiin, kondisi ekonomi dan politik di Indonesia itu sedang… kacau?

Hal itulah yang membuat investor jadi ragu-ragu untuk masuk ke market Indonesia.

Ya bayangin aja kalau mau bangun bisnis harus dipalakin ormas dulu, belum lagi urusan sama aparat. Otomatis growth industry di Indonesia ya gitu-gitu aja, mereka lebih kepikiran buat survive daripada optimize bisnis dengan biaya tambahan.

Belum lagi kondisi rupiah di Indonesia yang saat ini mau tembus 18 ribu.

Lengkaplah sudah penderitaan.

Dengan kondisi seperti ini, mau seefisien dan seefektif apapun solusi technology yang kita bawa, perusahaan juga pasti bakal mikir extra untuk mengeluarkan biaya tambahan ketika sekarang yang penting ada margin dan bisa bayar gaji karyawan dulu.

Apalagi di Indonesia, hal semacam koneksi, trust, dan kedekatan itu lebih penting dari kualitas software itu sendiri.

Dosen Industri saya juga cerita, kalau perusahaan tempat beliau kerja masih ragu untuk beli AI software padahal AI software ini bisa saja membantu operational. Tapi balik lagi, “ngapain keluarin uang kalau belum jelas kontribusinya.”

Ini beda banget sama kondisi di US yang duitnya banyak banget, mereka sudah survive easily dan ga takut untuk keluarin uang untuk optimize bisnis mereka.

Makanya di sana ada YCombinator (semacam startup incubation program popouler untuk early startup). Di sana newborn startup harusnya bisa survive karena ada yang mau beli. Yang penting ada yang mau beli sih wkwkwk.

Ya sebenarnya Apple Dev itu okay, kalau environtment tech kita itu kayak di US, jadi setelah dari Apple Dev bisa masuk ke startup tech (yang demandnya ada banyak).

Sustaining software.

Otomatis software yang mau dibeli sama perusahaan adalah software yang biasa mereka pakai dari dulu waktu zaman digitalisasi, ketika masih trend “wah semuanya harus dijadiin software.”

Dan ya, software yang bisa survive adalah software yang boring.

Maybe the real money is not in building the next unicorn, but becoming infrastructure nobody notices.

; ---